Pada perdagangan terakhir, indeks dolar — ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia — kembali turun, menandakan melemahnya posisi dolar secara global. Kondisi ini menyebabkan mata uang seperti euro, pound, yen, franc Swiss, dolar Kanada, dan krona Swedia menguat terhadap dolar.
Analis menyebut beberapa faktor penyebab, termasuk meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve — The Fed — akan melonggarkan kebijakan suku bunga akibat data ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan, sehingga investor global mulai mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar.
Selain itu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang relatif kurang menarik, dikombinasikan dengan kebijakan fiskal dan perdagangan yang dianggap kurang stabil, ikut mendorong arus modal keluar dari dolar dan masuk ke mata uang dengan prospek lebih stabil atau return relatif lebih menarik.
Akibat pelemahan dolar ini, negara-negara dengan sumber daya impor berdenominasi dolar harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga — terutama untuk barang-barang yang dibanderol dalam USD — sementara negara eksportir dan pemegang mata uang lokal cenderung mendapatkan keuntungan dari kurs yang lebih menguntungkan.
Dominasi dolar sebagai mata uang cadangan global telah berlangsung puluhan tahun. Namun sejak beberapa waktu terakhir, sejumlah tekanan mulai mengusik posisi tersebut: ketidakpastian kebijakan ekonomi AS, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dan gerakan global menuju “de-dolarisasi” di beberapa negara.
Tren pelemahan dolar bukan fenomena baru. Januari–Mei 2025, dolar sudah beberapa kali mengalami penurunan signifikan terhadap sekeranjang mata uang lainnya — akibat kombinasi faktor domestik AS serta kondisi global yang menuntut diversifikasi aset.
Penguatan mata uang global terhadap dolar ini memberi ruang bagi negara-negara berkembang untuk melonggarkan tekanan terhadap nilai tukar lokal, tetapi di sisi lain bisa memperketat kondisi impor dan utang luar negeri yang banyak dinilai dalam dolar.
Koreksi nilai dolar global kini membuka ruang bagi banyak mata uang dunia untuk menguat, dan memaksa investor serta pembuat kebijakan di seluruh dunia meninjau ulang strategi — terutama terkait utang luar negeri, impor, dan cadangan devisa. Era volatilitas nilai tukar ini menandakan bahwa ketergantungan global terhadap dolar semakin diuji, dan gejolak ekonomi dunia bisa semakin dinamis ke depan.
Comments
Leave a Reply