Otoritas Thailand mengonfirmasi bahwa total korban tewas akibat bencana banjir dan longsor telah mencapai 33 orang. Sebagian besar kematian disebabkan oleh longsor, arus deras, tenggelam, dan sengatan listrik. Banjir melanda sembilan provinsi di selatan Thailand. Salah satu kawasan paling terpukul adalah kota pelabuhan dan perdagangan karet, Hat Yai, di provinsi Songkhla, di mana rumah sakit utama sempat terendam, memaksa evakuasi ratusan pasien.
Pemerintah setempat mengerahkan helikopter, kapal boat, dan kapal militer untuk mengevakuasi warga dan pasien kritis, serta mendistribusikan bantuan pangan dan medis. Selain itu, kapal induk milik angkatan laut Thailand ,Chakri Naruebet juga dikerahkan sebagai bagian dari upaya tanggap darurat.
Upaya penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi sangat sulit karena akses jalan terputus, air meluap hingga ketinggian rumah, dan curah hujan ekstrem — di Hat Yai tercatat curah hujan harian tertinggi dalam 300 tahun terakhir. Pemerintah telah memperingatkan warga di provinsi selatan untuk bersiaga — potensi hujan deras masih diprediksi akan turun kembali dalam beberapa hari ke depan.
Thailand selatan bahkan secara rutin menghadapi hujan musiman dan risiko banjir, namun intensitas curah hujan dan frekuensi kejadian ekstrem diyakini meningkat memperlihatkan tren perubahan iklim dan ketidakstabilan cuaca yang makin terasa.
Beban tanggap bencana menjadi sangat besar: selain korban jiwa dan hilangnya tempat tinggal, jutaan warga terdampak secara langsung melalui gangguan layanan kesehatan, akses listrik, serta distribusi logistik dasar seperti air dan makanan.
Sejumlah kota, termasuk Hat Yai yang merupakan pusat perdagangan dan pariwisata terkena dampak hebat. Jika badai dan hujan terus berlanjut, kerugian ekonomi dan sosial bisa membengkak, terutama bagi komunitas miskin dan sektor usaha kecil.
Banjir selatan Thailand kali ini menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur dan sistem tanggap darurat ketika menghadapi cuaca ekstrem. Dengan korban jiwa, pengungsian massal, dan krisis logistik yang meluas pemulihan akan butuh waktu, koordinasi, dan bantuan luar biasa. Pemerintah dan masyarakat internasional perlu memperkuat kesiapsiagaan iklim, mitigasi risiko, serta sistem peringatan dini agar tragedi seperti ini tidak terulang dengan skala yang lebih besar.
Comments
Leave a Reply