Ibnu Khaldun dikenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Pemikirannya tentang masyarakat, ekonomi, dan peradaban menjadikannya dijuluki sebagai bapak sosiologi serta pelopor ekonomi Islam modern.
Ibnu Sina dikenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh dalam sejarah dunia kedokteran. Pemikirannya di bidang medis dan ilmu pengetahuan berhasil memberikan warisan besar yang terus digunakan hingga era modern saat ini.
Khalid bin Walid dikenal sebagai salah satu panglima perang paling berpengaruh dalam sejarah Islam karena kemampuannya membaca medan tempur dan menyusun strategi militer yang efektif. Kepiawaiannya dalam menganalisis situasi perang membuat pasukan Muslim kerap meraih kemenangan meski menghadapi lawan dengan jumlah lebih besar.
Kontribusi ilmuwan Muslim dalam perkembangan sains dan teknologi modern kembali menjadi perhatian dunia akademik. Berbagai penemuan di bidang kedokteran, matematika, astronomi, hingga teknik disebut menjadi fondasi penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dunia saat ini.
Kajian manuskrip di dunia Arab kembali mendapat perhatian karena dinilai menjadi kunci penting dalam memahami sejarah intelektual dan perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Ribuan naskah kuno yang tersebar di berbagai negara disebut menyimpan warisan besar peradaban Islam masa lampau.
US Food and Drug Administration mulai menerapkan sistem pemantauan uji klinis pasien secara real-time berbasis Artificial Intelligence untuk mempercepat pengembangan dan evaluasi obat baru.
Melanoma Research Alliance mengumumkan investasi riset global senilai 18,4 juta dolar AS untuk mempercepat pengembangan terapi dan teknologi baru dalam penanganan Melanoma, termasuk pemanfaatan AI dan imunoterapi generasi terbaru.
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence hingga tes darah modern membawa harapan baru dalam penelitian Alzheimer's Disease, dengan para ilmuwan mulai menemukan cara lebih cepat untuk mendeteksi dan memperlambat perkembangan penyakit tersebut.
Metode baru terapi CAR-T Cell Therapy disebut berpotensi membuat sebagian pasien kanker tidak lagi membutuhkan kemoterapi, setelah penelitian terbaru menunjukkan hasil pengobatan yang lebih efektif dengan efek samping lebih rendah.
Teknologi Artificial Intelligence membantu para ilmuwan menemukan target obat kanker baru bernama IRS4 yang dinilai memiliki potensi besar untuk menghambat pertumbuhan tumor dengan risiko efek samping yang lebih rendah.