Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali membuka peluang besar dalam dunia medis. Kali ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi target obat kanker baru yang dinilai lebih aman dan memiliki potensi besar untuk digunakan pada berbagai jenis tumor padat.
Tim ilmuwan dari St. Jude Children's Research Hospital memanfaatkan kombinasi data genetika kanker, AI, dan mutasi alami manusia untuk mencari target terapi yang efektif namun memiliki risiko efek samping lebih rendah. Dalam penelitian tersebut, protein bernama IRS4 muncul sebagai kandidat paling menjanjikan.
Penelitian ini berangkat dari tingginya angka kegagalan pengembangan obat kanker. Para peneliti menyebut sekitar 85 hingga 97 persen terapi kanker yang masuk uji klinis fase awal gagal mendapatkan persetujuan karena masalah toksisitas atau efek berbahaya terhadap jaringan tubuh normal
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan baru dengan menyaring gen-gen yang dibutuhkan sel kanker untuk bertahan hidup, tetapi tidak terlalu penting bagi fungsi normal tubuh manusia. Dengan bantuan AI, mereka menganalisis berbagai publikasi ilmiah dan data biologis guna mencari target yang kemungkinan aman jika dihambat.
Dari ratusan kandidat yang dianalisis, IRS4 menjadi perhatian utama karena protein tersebut jarang ditemukan pada jaringan normal orang dewasa, tetapi sangat dibutuhkan oleh beberapa jenis sel kanker untuk berkembang. Peneliti menemukan bahwa ketika IRS4 dihilangkan atau dinonaktifkan, pertumbuhan sel kanker langsung terhambat secara signifikan.
Target ini dinilai berpotensi digunakan untuk berbagai jenis kanker, termasuk tumor otak, osteosarkoma, kanker payudara, kanker paru-paru, hingga kanker lambung. Selain itu, pendekatan berbasis AI ini dianggap dapat membantu mempercepat proses penemuan obat baru dengan risiko kegagalan yang lebih kecil dibanding metode konvensional.
Para ilmuwan menilai metode baru tersebut bukan hanya penting untuk meningkatkan efektivitas pengobatan kanker, tetapi juga mengurangi dampak jangka panjang terhadap pasien, khususnya anak-anak yang sering mengalami komplikasi kesehatan setelah menjalani terapi agresif
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances dan dinilai menjadi langkah awal menuju pengembangan terapi kanker generasi baru yang lebih presisi, aman, dan minim efek samping.
Comments
Leave a Reply