KTT G20 di Afrika Selatan, yang berlangsung selama dua hari, resmi ditutup tanpa kehadiran perwakilan senior Amerika Serikat. Ramaphosa menegaskan bahwa palu kepemimpinan G20 telah berpindah, meski tidak dalam seremoni formal karena absennya delegasi AS.
Washington absen menyusul keputusan pemerintahan Trump untuk memboikot pertemuan tersebut. Alasan yang dikemukakan adalah tuduhan diskriminasi terhadap minoritas kulit putih Afrika Selatan, yang kemudian dibantah keras oleh pejabat Pretoria.
Di tengah ketegangan diplomatik ini, Afrika Selatan berhasil mendorong deklarasi pemimpin G20 lebih awal dari biasanya — yakni pada hari pembukaan. Fokus utamanya adalah pada isu-isu prioritas Global South, seperti perubahan iklim, krisis utang, dan ketimpangan kekayaan antar negara.
Deklarasi tersebut mendesak negara-negara kaya untuk membantu negara berpendapatan rendah dan menengah dalam membiayai pemulihan akibat bencana iklim, serta memperbaiki mekanisme pembiayaan hutang agar lebih adil.
Namun, beberapa gagasan ambisius — seperti pembentukan “panel global ketimpangan kekayaan” — gagal masuk dalam teks final pertemuan.
Ramaphosa menegaskan bahwa sikap inclusive Afrika Selatan mengakar dalam tekad memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang:
“Kita di sini tidak hanya bicara soal retorika. Kita ingin hasil nyata untuk negara-negara yang paling rentan.”
Sementara itu, pemimpin negara miskin yang hadir juga menyerukan agar bantuan utang dialihkan menjadi investasi produktif. Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, menyatakan bahwa inklusi pembangunan bukanlah amal, melainkan efisiensi. Presiden Namibia, Netumbo Nandi-Ndaitwah, menambahkan bahwa meski negaranya telah melunasi obligasi besar, masih dianggap “berisiko” oleh lembaga global — dorongan untuk reformasi lembaga keuangan pun semakin keras dilontarkan.
KTT G20 di Johannesburg menjadi tonggak bersejarah karena ini pertama kalinya pertemuan para pemimpin ekonomi terbesar dunia diselenggarakan di benua Afrika. Dalam masa presidensi G20 yang dipegang Afrika Selatan, negara ini jelas menggunakan momentum untuk membawa isu Global South ke pusat agenda — terutama ketimpangan ekonomi, utang berlebih, dan dampak iklim yang lebih keras dirasakan oleh negara berkembang.
Tradisi lama juga dipatahkan: biasanya pernyataan pemimpin baru G20 disepakati pada akhir KTT, tetapi di Johannesburg deklarasi itu dikeluarkan di awal. Langkah ini dipandang sebagai simbol tekad Afrika Selatan untuk mereformasi tatanan global agar lebih adil dan inklusif.
KTT G20 di Johannesburg menorehkan babak baru dalam diplomasi global. Walau Amerika Serikat absen, Afrika Selatan memanfaatkan kesempatan untuk menyoroti kesenjangan sosial dan iklim dunia. Dengan deklarasi pro-Global South dan seruan nyata terhadap utang serta keadilan iklim, pertemuan ini menjadi momentum penting bagi negara berkembang untuk memperkuat suara mereka di forum internasional — sekaligus menantang status quo lama dalam sistem global.
Comments
Leave a Reply