Selama KTT G20 di Afrika Selatan, Perdana Menteri China Li Qiang tampak aktif dan percaya diri, menegaskan posisi Beijing sebagai kekuatan kunci global tanpa kehadiran penuh AS. Menurut analisis dari The China-Global South Project, absennya pejabat tinggi Amerika memberi Beijing ruang lebih luas untuk mengontrol agenda diskusi dan penulisan komunike akhir.
Beijing mendorong narasi multilateral, solidaritas, dan perdagangan bebas, menekankan bahwa negara berkembang harus memiliki suara lebih besar dalam struktur ekonomi dunia. Tokoh dari lembaga pengamat menilai, ketidakhadiran delegasi AS membuka peluang bagi China untuk menempati posisi “mitra tepercaya” dalam tata kelola global bersama negara-negara Selatan.
Lebih jauh, analis dari China-Global South Project menyatakan bahwa langkah ini memperlihatkan strategi jangka panjang Beijing: bukan hanya memperkuat pengaruh di kawasan Global South, tetapi juga meredefinisi peran China di panggung global sebagai pemimpin alternatif terhadap tatanan Barat.
Kebangkitan diplomasi Beijing di forum internasional seperti G20 mencerminkan kebijakan strategis yang lebih luas — China semakin memanfaatkan momentum kelemahan Amerika untuk memperkuat kemitraan ekonominya dengan negara-negara Global South. Dalam pandangan beberapa pengamat, ini bukan sekadar soal kekuasaan ekonomi, tetapi juga tentang menawarkan model tata dunia yang berbeda: satu yang berbasis kerjasama multipihak, bukan hegemoni tunggal.
Sementara itu, kritik tetap muncul: beberapa pihak mempertanyakan apakah China benar-benar memprioritaskan pembangunan setara, atau lebih sebagai patron yang mengikat negara-negara berkembang dalam jaringan pengaruhnya sendiri.
Keterlibatan aktif China di G20 kali ini menggambarkan ambisinya untuk menggantikan sebagian ruang diplomasi yang ditinggalkan AS. Dengan mengusung nilai-nilai multilateral dan solidaritas Global South, Beijing menegaskan posisinya sebagai pilar baru peran kepemimpinan global. Namun, keberhasilan jangka panjang inisiatif ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara-negara berkembang menanggapi peran China — sebagai sekutu setara, atau patron diplomatik baru.
Comments
Leave a Reply