JALUR GAZA— Bencana alam kini menambah daftar panjang penderitaan yang dialami warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza. Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah padat tersebut sejak Jumat hingga Sabtu pekan lalu telah membanjiri ribuan kamp penampungan darurat, mengubah tenda-tenda pengungsian menjadi kubangan lumpur dan genangan air.
Laporan data terbaru menunjukkan tingkat kerentanan yang mengkhawatirkan: sekitar 1,5 juta penduduk Palestina yang telantar sejak konflik Oktober 2023 kini menghadapi ancaman ganda. Menurut kantor media pemerintah Gaza, sebanyak 93%—setara dengan 125.000 dari total 135.000 tenda yang ada—kini dinilai tidak layak lagi untuk dihuni karena kombinasi kerusakan akibat pemboman dan faktor cuaca.
Kehilangan di Tengah Kehancuran
Banjir telah merendam pakaian, kasur, dan selimut, menghilangkan sisa-sisa harta benda terakhir yang dimiliki keluarga pengungsi. Kondisi ini terjadi setelah 92% bangunan tempat tinggal di Gaza dilaporkan telah hancur total akibat operasi militer.
Mahmoud Basal, Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, menyampaikan situasi kritis di lapangan: "Seluruh pusat penampungan mengalami kenaikan ketinggian air hingga lebih dari 10 (sentimeter). Kasur basah kuyup, selimut basah kuyup, dan tidak ada pilihan tersisa—karena semua pilihan telah dihancurkan." Basal juga mengakui bahwa ratusan permohonan bantuan yang diterima tidak dapat dipenuhi karena minimnya sumber daya yang tersedia.
Seruan Internasional Mendesak Akses Bantuan
Menyikapi keadaan darurat ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam. Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, khawatir ribuan keluarga kini "benar-benar terpapar kondisi cuaca ekstrem," yang meningkatkan risiko kesehatan dan perlindungan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) secara khusus mendesak pihak terkait untuk segera membuka akses masuk bagi material perlindungan musim dingin. UNRWA menegaskan bahwa mereka memiliki persediaan penting seperti terpal dan selimut yang sangat dibutuhkan di Gaza, namun material tersebut terus terblokir masuk, melanggar kewajiban yang diatur berdasarkan perjanjian gencatan senjata sebelumnya.
Memasuki musim dingin, kebutuhan akan tempat berlindung yang layak dan pasokan logistik dasar menjadi semakin mendesak untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam.
Comments
Leave a Reply