Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) melontarkan kritik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional dan pelemahan rupiah. Organisasi mahasiswa tersebut menilai pemerintah tidak seharusnya meremehkan dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat.
Sebelumnya, Prabowo menyatakan pelemahan rupiah tidak terlalu mempengaruhi masyarakat desa karena sebagian besar aktivitas ekonomi mereka tidak menggunakan dolar Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan di tengah nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh level terendah baru terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
BEM UI menilai komentar tersebut berpotensi menyesatkan publik karena dampak pelemahan rupiah tetap dirasakan masyarakat secara luas, terutama melalui kenaikan harga barang impor, biaya produksi, hingga potensi inflasi pangan dan energi. Mereka juga meminta pemerintah lebih transparan dalam menjelaskan kondisi ekonomi nasional kepada masyarakat.
Dalam pernyataannya, BEM UI menyebut stabilitas ekonomi tidak cukup hanya diukur dari aktivitas transaksi masyarakat desa, tetapi juga harus melihat dampak jangka panjang terhadap daya beli, lapangan kerja, dan sektor usaha nasional. Organisasi mahasiswa itu turut mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah disebut dipengaruhi berbagai faktor global seperti konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta ketidakpastian ekonomi internasional. Di sisi domestik, pasar juga menyoroti kondisi fiskal dan arus modal asing yang mulai keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Meski mendapat kritik, pemerintah tetap menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi aman. Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.
Comments
Leave a Reply