Beijing — Qin Shi Huang, yang lahir sebagai Ying Zheng sekitar tahun 259 SM, muncul sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Tiongkok setelah berhasil menyatukan negara-negara yang sebelumnya terpecah belah di bawah kekuasaan yang terpusat. Ketika naik takhta sebagai penguasa negara Qin pada usia muda, ia mengubah kerajaan kecil itu menjadi kekuatan dominan yang menaklukkan enam negara lain — Han, Zhao, Wei, Chu, Yan, dan Qi — mengakhiri periode perang berkepanjangan selama abad ke-3 SM dan menandai awal terbentuknya Kesatuan Tiongkok.
Setelah keberhasilannya menyatukan wilayah yang luas, Ying Zheng memproklamirkan dirinya sebagai Qin Shi Huangdi — yang berarti “Kaisar Pertama Qin” — menandai lahirnya gelar kekaisaran yang kemudian menjadi identitas pemerintahan sepanjang berabad-abad di Tiongkok. Dengan menjadikan dirinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, ia melaksanakan serangkaian reformasi yang bersifat radikal demi memperkuat otoritas negara dan mencegah terulangnya konflik internal yang pernah melanda negeri itu.
Salah satu warisan paling terkenal dari masa pemerintahan Qin Shi Huang adalah pembangunan Tembok Besar Tiongkok (Great Wall) dalam bentuk awalnya. Untuk menghadapi ancaman dari suku-suku nomaden di utara, ia memerintahkan penyatuan struktur tembok dan benteng yang sudah ada menjadi sistem pertahanan yang luas. Infrastruktur perbentengan ini menjadi simbol daya tahan kekaisaran yang tak hanya bertahan selama berabad-abad, tetapi juga menjadi ikon kebanggaan nasional Tiongkok hingga kini.
Di samping itu, Qin Shi Huang juga memerintahkan standarisasi ukuran, tulisan, sistem hukum, dan uang di seluruh wilayah kekaisaran baru itu. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menyatukan ragam dialek dan budaya lokal di bawah satu sistem administrasi yang efisien, serta mempermudah perdagangan, komunikasi, dan kontrol politik di seluruh negeri.
Namun, era kekuasaan Qin Shi Huang juga dikenal dengan langkah-langkah otoriter dan keras terhadap perbedaan pendapat. Pemerintahannya membatasi kebebasan berbicara dan menindak praktik buku atau ajaran yang dianggap bertentangan dengan ideologi negara. Salah satu contoh paling terkenal adalah pembakaran buku-buku tertentu dan penghancuran karya-karya intelektual yang tidak sejalan dengan kebijakan kekaisaran, tindakan yang kemudian menjadi bahan kontroversi dalam kajian sejarah dunia.
Qin Shi Huang wafat pada tahun 210 SM, namun pengaruhnya tetap hidup melalui sistem pemerintahan berpusat yang diwariskannya kepada dinasti-dinasti berikutnya. Walaupun Dinasti Qin runtuh hanya beberapa dekade setelah kematiannya, struktur pemerintahan yang ditetapkannya menjadi model bagi negara Tiongkok yang terus berkembang dalam periode-periode sejarah berikutnya.
Qin Shi Huang tetap menjadi salah satu figur paling determinan dalam sejarah peradaban dunia. Keberaniannya dalam menyatukan wilayah yang luas membuka babak baru bagi identitas nasional Tiongkok dan tata pemerintahan yang berkelanjutan. Meskipun gaya pemerintahannya sering dianggap keras dan kontroversial, kontribusinya terhadap pembentukan negara serta standar sosial dan administrasi memberikan dampak yang monumental — bukan hanya pada zamannya, tetapi juga bagi peradaban yang mengikuti. Warisannya dipandang oleh sejarawan sebagai fondasi awal pembentukan negara Tiongkok modern yang kita kenal saat ini.
Comments
Leave a Reply